AtlantiA

Kamis, 19 Desember 2013

'Sebuah coretan dari Sahabat'


~*~
.......
Kasihan kau selalu gagal mencari Tuhan di sana, 
 di langit, di bintang-bintang, di bulan dan di tempat tinggi-tinggi. 

Padahal Tuhan bertahta jauuuuuh...di sana di relung hati sanubarimu yang suci.

Kadang-kadang aku geli melihat engkau yang seolah-olah rindu akan kasih Tuhan, 
padahal diam-diam mengharapkan upah dikemudian hari.

 Perutkupun kaku karena tertawa terpingkal-pingkal 

mendengar kamu menyuruh Tuhan 
untuk melaksanakan kehendakmu yang kau sembunyikan 
dalam doa-doamu yang manis itu. 

Aku ragu, engkau ini sedang berdoa atau sedang membaca puisi tentang doa !..

~*~
~*'Special thanx to Anastasia Picadelia'*~

Selasa, 17 Desember 2013

Izinkanlah dirimu untuk bernafas...





.......................

Banyak diantara kita yang tidak sanggup untuk beristirahat (membiarkan tubuh dan batin kita untuk beristirahat). Hal ini dikarenakan didalam diri kita terdapat suatu dorongan yang sangat kuat untuk melakukan sesuatu – berlari. Kita sudah berlari tanpa henti selama beberapa ribuan tahun. Jadi kita harus mulai berlatih untuk berhenti. Inilah alasan untuk berlatih ‘berada disaat ini’, menyentuh keajaiban hidup ‘di saat ini’, merupakan suatu hal yang menakjubkan dan cara yang mudah untuk beristirahat.


Ada suatu kecenderungan dalam diri kita untuk berpikir bahwa kebahagiaan harus dicari dimasa yang akan datang dengan melakukan sesuatu. Bahkan kesehatan juga harus dicari dengan melakukan sesuatu. Tetapi, kita tidak mengetahui bahwa, dengan tidak melakukan apapaun dapat menjadi sebuah kunci untuk mengembalikan kesehatan kita. Banyak dari kita yang terobsesi dengan pola pikir, kita harus mendapatkan lebih banyak gizi dan nutrisi. Kita membeli vitamin, “sebutir setiap hari”, dan kita memakan sebutir pil setiap pagi atau hal-hal seperti itu. Tidak banyak dari kita yang sadar kalau kita memiliki cadangan dalam tubuh kita sehingga kita dapat menggunakannya untuk tiga atau empat minggu tanpa makan. Mereka yang berlatih puasa  dan hanya minum air, dapat bertahan berminggu-minggu dan kita tidak harus menghentikan kegiatan sehari-hari kita. Kita masih dapat berlatih meditasi duduk, meditasi jalan, membersihkan dapur, ke kamar mandi, mengikuti kelas dharma. Kita juga dapat melewatkan banyak minggu tanpa makan. Dalam proses kita menikmati melakukan hal-hal tersebut, racun-racun dalam diri kita, pada hari ketiga mulai keluar karena kita meminum banyak sekali air, dan kita banyak berlatih meditasi jalan dan bernapas secara mendalam dan kita membersihkan tubuh kita, jadi racun-racun tersebut dapat keluar. Setelah tiga minggu, kita terlihat jauh lebih baik. Kulitmu, ekspresi wajahmu, senyummu – akan tampak beda. Ini bukan karena anda makan banyak vitamin, atau memakan banyak nutrisi, ini karena anda tidak makan apapun. Anda membiarkan tubuhmu untuk beristirahat.


Demikian juga yang terjadi pada kesadaran kita. Ada banyak racun yang terkumpul selama bertahun-tahun. Kita telah mengonsumsi racun – ketakutan, kesedihan, kemarahan, keputus-asaan – dalam kehidupan sehari-hari dengan menyentuh ini-itu tanpa perhatian penuh. Jadi, semua racun tersebut telah menjadi bibit depresi, kekhawatiran dan kesedihan – semua sampah tersebut sebaiknya ditransformasikan, dihilangkan. Andai kita dapat membiarkan diri kita untuk menyentuh elemen penyembuhan dalam kehidupan sehari-hari kita, sebuah proses penetralan racun akan terjadi.


Bisakah Anda menikmati tarikan dan hembusan napas ? Hanya menarik napas dan menghembuskan napas. Adakah hal yang menarik daripada menarik dan menghembuskan napas ?  Bernapas adalah hal yang sangat menakjubkan. Anda masih hidup. Kenyataan bahwa anda masih dapat menarik napas adalah suatu keajaiban. Banyak orang yang ingin menarik napas namun tidak dapat melakukannya karena mereka telah meninggal. Kita berharap mereka bisa menarik napas tetapi mereka terkapar begitu saja tidak bergerak, mereka terbaring disana, tanpa adanya tanda-tanda kehidupan. Jadi izinkanlah dirimu untuk menarik napas dan sadarlah kalau anda menarik napas, bahwa anda masih hidup... Hal ini dapat menjadi sumber kebahagiaan yang dalam.

.................................................................
           
~Menyembuhkan Diri, Mengatasi Derita – Ven. Zen Master Thich Nhat Hanh ~

Senin, 16 Desember 2013

'Memasak sendiri kentang kita'

 Terima kasih pada sinar kesadaran yang menerangi; setelah berlatih pengamatan yang cermat beberapa saat, kita mulai melihat sebab-sebab utama dari kemarahan kita. Meditasi membantu kita melihat secara mendalam pada segala sesuatu dalam rangka melihat sifat alamiah mereka. Jika kita mengamati kemarahan kita, kita bisa melihat akarnya, seperti salah pengertian, kejanggalan, ketidak-adilan, kebencian atau keadaan. Akar-akar ini bisa berada di dalam diri kita sendiri dan pada orang yang memainkan peran utama dalam menimbulkan kemarahan kita.

Kita mengamati dengan cermat agar bisa melihat dan memahami. Melihat dan memahami merupakan unsur pembebasan yang menimbulkan cinta kasih dan kasih sayang. Metode pengamatan secara cermat agar bisa melihat dan memahami akar-akar kemarahan merupakan metode yang memiliki kemanjuran yang abadi.

Kita tidak bisa memakan kentang mentah, tetapi kita tidak bisa membuangnya hanya karena mereka masih mentah. Kita tahu kita bisa memasaknya. Jadi kita masukkan mereka ke dalam sepanci air, menutupnya dan meletakkan panci di atas api. Api adalah kesadaran (eling), praktik dari bernapas secara sadar dan memusatkannya pada kemarahan kita. Tutup melambangkan konsentrasi kita, karena ia mencegah panas keluar dari panci. Ketika berlatih menarik dan mengeluarkan napas, mengamati kemarahan kita, kita memerlukan konsentrasi agar latihan kita menjadi kuat. Oleh karena itu, kita menolak semua gangguan, dan memusatkan perhatian pada persoalan. Jika kita pergi ke alam, di antara pepohonan dan bunga-bungaan, praktik itu menjadi lebih mudah.

Segera setelah kita meletakkan panci di atas api, terjadi perubahan. Airnya mulai panas. Sepuluh menit kemudian, ia mendidih, tetapi kita harus membiarkan api beberapa lama lagi untuk memasak kentang kita. Begitu kita berlatih menyadari napas kita dan kemarahan kita, perubahan sudah terjadi. Setelah setengah jam, kita angkat tutupnya dan mencium sesuatu yang lain. Kita tahu sekarang kita bisa memakan kentang kita.

Kemarahan sudah diubah menjadi tenaga yang lain yaitu pengertian dan kasih sayang
.................

(Damai di Setiap Langkah,  ~ Ven. Zen Master Thich Nhat Hanh)

Munajat...






~ * ~
“Dengan Asma Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang”
 ~ * ~
Ilahi...
Apakah orang yang telah mencicipi manisnya cinta-Mu 
akan menginginkan pengganti selain-Mu ..

Apakah orang yang t’lah bersanding di samping-Mu akan mencari penukar selain-Mu

Ilahi...
jadikan kami di antara orang yang kaupilih untuk pendamping dan kekasih-Mu

yang Kau ikhlaskan untuk memperoleh cinta dan kasih-Mu

yang Kau rindukan untuk datang menemui-Mu

yang Kau ridhokan (hatinya) untuk menerima qadha-Mu

yang Kau anugerahkan (kebahagiaan) untuk melihat wajah-Mu

yang Kau limpahkan keridhoan-Mu

yang Kau lindungi dari pengusiran dan kebencian-Mu

yang Kau persiapkan baginya kedudukan siddiq di samping-Mu

yang Kau istimewakan dengan makrifat-Mu

yang Kau arahkan untuk mengabdi-Mu

yang Kau tenggelamkan hatinya dalam iradah-Mu

yang Kau pilih untuk menyaksikan-Mu 

yang Kau kosongkan dirinya untuk-Mu

yang Kau bersihkan hatinya untuk cinta-Mu

yang Kau bangkitkan hasratnya akan karunia-Mu

yang Kau ilhamkan padanya mengingat-Mu

yang Kau dorong padanya mensyukuri-Mu

yang Kau sibukkan dengan ketaatan pada-Mu

yang Kau pilih untuk bermunajat pada-Mu

yang Kau putuskan daripadanya segala sesuatu yang memutuskan hubungan dengan-Mu

Ya Allah

Jadikan kami di antara orang-orang yang kedambaannya adalah mencintai dan merindukan-Mu 

nasibnya hanya merintih dan menangis, Dahi-dahi mereka sujud karena kebesaran-Mu

Mata-mata mereka terjaga dalam mengabdi-Mu

Air mata mereka mengalir karena takut pada-Mu

Hati-hati mereka terikat pada cinta-Mu

Kalbu-kalbu mereka terpesona dengan kehebatan-Mu

Wahai yang cahaya kesucian-Nya bersinar dalam pandangan para pecinta-Nya

Wahai yang kesucian wajah-Nya membahagiakan hati pada pengenal-Nya

Wahai kejaran kalbu para perindu

Wahai tujuan cita para pecinta

Aku memohonkan cinta-Mu dan cinta orang yang mencintai-Mu 
dan cinta amal yang membawa aku ke samping-Mu

Jadikan Engkau lebih aku cintai dari pada selain-Mu

Jadikan cintaku Pada-Mu membimbingku pada ridho-Mu

kerinduan pada-Mu mencegahku dari maksiat atas-Mu

Anugerahkan diriku dengan tatapan kasih dan sayang-Mu

Jangan palingkan wajah-Mu dariku

Jadikan aku diantara penerima anugerah dan karunia-Mu

Wahai pemberi ijabah

Wahai yang Paling Pengasih dari segala yang mengasihi

~* ~

~* Sahifah sajjadiyah Ali zainal Abidin *~

Minggu, 15 Desember 2013

...Seteguh Gandhi, Semenyentuh Rumi...

Menyusul maraknya kekerasan di sejumlah negara Barat (sebagai contoh serangan AS dkk ke Afghanistan dan Irak) yang tadinya menjadi suri tauladan dunia dalam banyak hal, sejumlah sahabat mulai bertanya: siapakah yang akan menjadi tauladan di depan dalam menentukan peradaban manusia? Sebuah pertanyaan sulit. Meminjam pendapat seorang guru, mungkin lebih mudah bagi benang kusut untuk keluar dari lubang jarum, dibandingkan mencari suri tauladan peradaban di zaman ini. 

Bagi pencinta optimisme, tentu selalu ada jendela-jendela kesempatan yang terbuka di setiap zaman. Bila saja cahaya tauladan belum kelihatan, mungkin karena awan penghalang belum waktunya untuk berlalu. Bukannya karena tidak bercahaya. 
Ada dua jenis pemanah yang targetnya dihalangi awan: menunggu awannya berlalu, atau tetap memanah kendati beresiko tidak tepat sasaran. Keduanya membawa plus minusnya masing-masing. Yang pertama aman, namun ketika awan berlalu papan sasaran sudah penuh dengan anak panah orang lain. Yang kedua beresiko, namun ia lebih mungkin mencapai sasaran dibandingkan yang pertama. 
Dengan resiko seperti inilah, kemudian sejumlah sahabat mulai berspekulasi tentang penentu-penentu peradaban di masa depan. Ada yang mengemukakan kalau Cina sebuah kandidat terutama dengan melihat jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonominya. Ada yang menoleh pada India, terutama karena penguasaan teknologi informasi yang menonjol. Ada juga yang menunjuk pada Afrika Selatan, secara lebih khusus karena fundamen kemajuan yang dibangun Nelson Mandela demikian kokoh. Dan Anda pun boleh menambahkannya dengan pendapat yang lain. 

Dan apapun negaranya, sulit membayangkan bisa menjadi tauladan peradaban tanpa peran pemimpin yang mengagumkan. Oleh karena itulah, maka eksplorasi ide tentang hal ini akan difokuskan pada sifat-sifat kepemimpinan. 
Mendalami tantangan-tantangan yang menghadang, tidak ada kata yang lebih tepat dari kata berat. Jangankan pemimpin yang belum menunjukkan tanda-tanda kinerja yang mengagumkan, Thaksin di Thailand yang sudah menunjukkan sejumlah kinerja saja dikudeta. Jangankan mereka yang umur tahun kepemimpinannya masih bisa dihitung dengan beberapa jari, yang sudah mencengkram beberapa puluh tahun pun harus runtuh. Dari sinilah muncul perlunya sikap teguh dalam memimpin. 

Dan salah satu pemimpin dengan kualitas keteguhan mengagumkan yang pernah lahir bernama Mahatma Gandhi. Tidak terhitung banyak sekaligus besarnya tantangan yang pernah dihadapi
Gandhi. Dari disiksa ketika menjadi pengacara di Afrika Selatan, berhadapan dengan penjajah Inggris yang memegang kuasa sekaligus senjata, sampai dengan digoda kekuasaan setelah India merdeka. Dan apapun godaannya, Gandhi tetap teguh pada dua hal: tanpa kekerasan, tidak mencampurkan urusan pribadi dengan urusan perjuangan.
Soal tanpa kekerasan, Gandhi memang nyaris tiada tandingannya di abad ini. Baik ketika di Afrika Selatan maupun di India, berkali-kali tubuhnya disakiti dan dilukai, ia tetap konsisten dengan prinsip tanpa kekerasan. Bahkan ketika tubuhnya ditembus peluru pun, beberapa detik sebelum mati masih sempat memohon agar yang menembak dirinya diampuni. 
Berkaitan dengan keteguhan tidak mencampurkan perjuangan dengan urusan pribadi, terlihat puncaknya tatkala India baru merdeka. Tidak sedikit tokoh baik dari kubu Hindu maupun Muslim yang sepakat, Gandhilah yang paling pantas duduk sebagai Perdana Menteri India yang pertama. Namun sebagaimana telah dicatat rapi oleh sejarah, ia menjaga kemurnian perjuangan dengan mempersilahkan Nehru memegang kursi perdana menteri. Sehingga dalam totalitas, jadilah Gandhi tokoh yang merenda keindahan kehidupan dengan dua keteguhan: tanpa kekerasan dan kemurnian perjuangan. 

Namun sebagaimana telah banyak dicatatkan oleh waktu, terlalu banyak pemimpin yang menggunakan keteguhan tanpa pedoman. Ibarat pengayuh perahu, keras sekali ia mengayuh (baca: teguh), namun lupa bahwa ia tidak seorang diri di dalam perahu. Sehingga jadilah keteguhan bersahabatkan kesewenang-wenangan. 
Dan di zaman di mana wacana, perjuangan, konflik, tarik menarik kepentingan demikian riuhnya, bukan lagi saatnya merubah orang dengan pentungan, kepalan tangan, ancaman, apa lagi pembunuhan. Seberapa keras pun kepribadian seseorang, seberapa gelap pun pengalamannya, seberapa sentimen pun ia akan kehidupan, tetap manusia rindu akan sentuhan-sentuhan. 
Seperti Cleopatra yang menundukkan Eropa pertama kalinya. Seperti Taj Mahal yang bukan permaisuri raja, bukan beragama Hindu, tetapi dikenang menawan di negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Seperti Ibu Theresa yang menyentuh hati dunia. Di sinilah kemudian manusia memerlukan seorang Rumi. 

Bila Gandhi menawan dengan keteguhan, Rumi menawan dengan sentuhan-sentuhan.  Ada wibawa, ada karisma, ada getaran, ada sentuhan di hampir setiap karya-karya Rumi. 
Suatu hari Rumi berdoa dalam-dalam. Sehabis berdoa, ia ketuk pintu Kekasih Yang Maha Mencintai. Dari dalam ada yang bertanya: ’siapa?’. Dengan teduh Rumi menjawab: áku!. Tanpa menunggu lama-lama suara tadi menjawab kembali : ’tidak ada tempat untuk berdua’
Kembali Rumi berdoa dalam-dalam. Setelah dirasa cukup, ia ketuk lagi pintu yang sama. Kali ini pun terdengar suara yang sama: ’siapa?’. Dengan bergetar Rumi menjawab: Éngkau!’. Tanpa aba-aba pintu itu langsung terbuka.  Bagi setiap pejalan kaki ke dalam diri akan mengerti, seberapa jauh Rumi sudah pergi.  

Dalam doa, dalam kerja selalu Pintu itu diketok-ketok  dengan berbagai cara. Namun bagi manusia yang masih sibuk dengan kata aku (baca: penuh ego, kesombongan, kecongkakan, kemarahan, kebencian), Pintu itu tidak terbuka. Kapan saja 'aku'nya menghilang, tanpa diketuk pun Pintu ini otomatis terbuka. 
Dalam bahasa seorang guru: when you step up in the path of God means you step down in the path of ego. Kalau kaki manusia melangkah  naik di tangga-tangga keTuhanan, berarti melangkah turun dalam tangga-tangga keegoan. Dan baik kehidupan Gandhi maupun kehidupan Rumi sama-sama penuh inspirasi karena melangkah turun dalam tangga-tangga keegoan.  

Kembali ke cerita awal tentang tauladan peradaban, di mana saja lahir pemimpin yang seteguh Gandhi dan semenyentuh Rumi, barangkali dari sana cahaya peradaban akan mulai membimbing kegelapan-kegelapan.

~ Gede Prama ~

'agama saya...kasih-sayang'

Paradoks, itulah judul yang diberikan terhadap kecenderungan kekinian dalam kehidupan. 
John Naisbitt adalah salah satu tokoh yang berkontribusi besar terhadap populernya terminologi paradoks. Fundamental dalam pikiran orang-orang seperti Naisbitt, bila ada kecenderungan yang keluar dari rel akal sehat, dengan mudah masuk ke kotak paradoks. Sebagian dari manusia yang memberi judul paradoks kemudian kecewa, sebagian lagi malah bertumbuh justru karena paradoks. Tulisan ini berharap, mudah-mudahan lebih banyak sahabat yang dibuat bertumbuh oleh paradoks-paradoks berikut. Tidak menjadi niat tulisan ini agar paradoks-paradoks berikut menjadi awal permusuhan dan kecurigaan baru.

Sebagian paradoks yang layak dicermati adalah apa yang terjadi di Bali, India, Tibet sampai dengan Timur Tengah. Bali sebagaimana dikomunikasikan dalam waktu lama oleh industri pariwisata adalah pulau kedamaian. Namun di sini juga ribuan manusia dibantai karena judul komunis di tahun 1965. Di sini juga dua bom teroris meraung-raung memakan banyak jiwa manusia. Di sini juga sebuah kota terbakar karena calon presiden yang didukung tidak terpilih di tahun 1999. Di Bali juga terjadi orang sudah meninggal pun masih dihalangi agar pulang secara damai.

India juga serupa. Di sini lahir dua agama dunia (Hindu dan Buddha), di sini juga terlahir tokoh-tokoh spiritual yang besar dan mengagumkan dari Mahatma Gandhi, Ramakrishna, Svami Vivekananda, 0sho, Ramana Maharsi sampai dengan Buddha Gautama, Atisha, dan Acharya Shantidewa. Tapi di sini juga kebencian memacu permusuhan terus menerus, sehingga sahabat Hindu dengan sahabat Islam belum mengakhiri secara tuntas permusuhannya. Persoalan perbatasan masih memanas. Sejumlah tempat ibadah masih dijaga aparat.

Tibet adalah atap dunia. Seperti kepalanya Bumi. Sehingga mudah dimengerti di sini lahir banyak sastra kehidupan yang mengagumkan (salah satu contohnya The Tibetian Book of the Dead). Namun di sini juga kesedihan berumur teramat panjang. Dari pemimpinnya Dalai Lama sudah di pengasingan selama puluhan tahun, nasib rakyat Tibet yang penuh dengan tangisan. Dan belum ada tanda-tanda kuat kalau negeri suci ini akan mengalami perubahan.

Timur Tengah juga serupa. Di sini dua agama dunia (Islam dan Nasrani) pernah lahir. Namun di sini juga mesin-mesin senjata meraung-raung terus memakan korban-korban manusia tidak berdaya. Israel dan Palestina belum menunjukkan tanda-tanda berdamai dalam jangka panjang. Belakangan malah semakin menyedihkan.

Sehingga dalam totalitas, mudah dimengerti kalau Naisbitt pernah membaca sebuah kecenderunga mendunia: ‘religion no, spirituality yes’. Agama tidak, spiritualitas ya.' Ini mirip dengan pengalaman seorang remaja Indonesia yang pernah kuliah di Melbourne. Suatu kali dalam kelas yang besar jumlah mahasiswanya, dosennya bertanya: any one of you who have religion? Siapakah yang memiliki agama di kelas ini? Dan yang menaikkan tangan hanya segelintir orang saja. Namun mahasiswa yang tidak menaikkan tangannya, kalau meminjam pensil tidak lupa mengembalikan. Bila bertemu Ibu-Ibu dosen membawa beban buku agak berat, cepat memberikan pertolongan. Bila antre di manapun sangat disiplin dengan antrean. Tatkala bertemu sahabat lain tersenyum sambil mengucapkan selamat pagi. Bila ada teman dalam kesulitan, refleknya bekerja amat cepat untuk membantu. Bila masuk pintu lift atau pintu kereta api mendahulukan orang tua.
Sehingga menimbulkan pertanyaan, apa agama orang-orang ini? 
Mirip dengan sejumlah wisatawan manca negara yang datang ke Bali, ketika ditanya apakah Anda Nasrani, ia hanya menjawab dengan senyuman tidak bersuara. Tetapi sopannya ya ampun. Masuk rumah mengetok pintu, lupa dipersilahkan duduk, kemudian bertanya: boleh saya duduk? Bila tidak sependapat, memulai dengan kata ‘maafkan kalau saya tidak sependapat’. Dan sejumlah sopan santun yang menyentuh hati.

Ini juga yang membuat sejumlah sahabat di dunia spiritual mulai bergeser: dari pengetahuan spiritual menuju pencapaian spiritual. Belajar dari Buddha lengkap dengan welas asihnya tentu baik. Membaca puisi-puisi sufi yang bertema cinta dan hanya cinta, tentu berguna. Kagum dengan doa Santo Fransiscus dari Asisi tentu bermakna. Jatuh cinta sama Bhagawad Gita tentu sebuah pertumbuhan jiwa. Mendalami kebijaksanaan-kebijaksanaan Confucius tentu saja bermanfaat. Namun mengaktualisasikannya ke dalam pencapaian spiritual keseharian, tentu memerlukan upaya yang jauh lebih keras lagi.

Banyak guru yang sepakat, jembatan terpenting yang menghubungkan antara pengetahuan spiritual dengan pencapaian spiritual adalah latihan. Seperti menemukan keseimbangan bersepeda, hanya latihan yang paling banyak membantu. Dan waktu serta tempatnya tersedia di mana-mana secara berlimpah. Di rumah, tempat kerja, sekolah, jalan raya, tempat ibadah, sampai dengan lapangan sepak bola, semuanya bisa menjadi tempat-tempat menemukan pencapaian spiritual. Seperti kalimat indah Kahlil Gibran: ‘keseharian kita adalah tempat ibadah kita yang sebenarnya’.

Menyayangi istri/suami, mendidik putera/puteri, mencintai orang tua, menghormati tetangga, menghargai pendapat/sikap yang berbeda, menghormati atasan, menghargai jasa pemerintah, berterimakasih pada tukang sapu/pembantu, bila mampu mencintai musuh, adalah rangkaian pencapaian spiritual keseharian yang mengagumkan. Pengetahuan spiritual memang kaya kata-kata, namun pencapaian spiritual kaya akan pelaksanaan. 


Kagum dengan pencapaian spiritual Dalai Lama, Richard Gere pernah bertanya pada pemimpin spiritual Tibet ini tentang agama yang sebenarnya dianut Dalai Lama dalam keseharian. Dengan senyuman penuh di muka, Dalai Lama menjawab: agama saya yang sebenarnya adalah kebaikan.
Ini mirip dengan cerita tentang mahasiswa Melbourne di depan yang tidak menaikkan tangan ketika ditanya punya agama atau tidak. Namun kesehariannya rajin membantu, sekaligus jarang menyakiti. 

Sebagian dari orang-orang ini sambil bergumam mengatakan: ‘agama saya Cinta’.



~ Gede Prama ~