AtlantiA

Minggu, 15 Desember 2013

...Seteguh Gandhi, Semenyentuh Rumi...

Menyusul maraknya kekerasan di sejumlah negara Barat (sebagai contoh serangan AS dkk ke Afghanistan dan Irak) yang tadinya menjadi suri tauladan dunia dalam banyak hal, sejumlah sahabat mulai bertanya: siapakah yang akan menjadi tauladan di depan dalam menentukan peradaban manusia? Sebuah pertanyaan sulit. Meminjam pendapat seorang guru, mungkin lebih mudah bagi benang kusut untuk keluar dari lubang jarum, dibandingkan mencari suri tauladan peradaban di zaman ini. 

Bagi pencinta optimisme, tentu selalu ada jendela-jendela kesempatan yang terbuka di setiap zaman. Bila saja cahaya tauladan belum kelihatan, mungkin karena awan penghalang belum waktunya untuk berlalu. Bukannya karena tidak bercahaya. 
Ada dua jenis pemanah yang targetnya dihalangi awan: menunggu awannya berlalu, atau tetap memanah kendati beresiko tidak tepat sasaran. Keduanya membawa plus minusnya masing-masing. Yang pertama aman, namun ketika awan berlalu papan sasaran sudah penuh dengan anak panah orang lain. Yang kedua beresiko, namun ia lebih mungkin mencapai sasaran dibandingkan yang pertama. 
Dengan resiko seperti inilah, kemudian sejumlah sahabat mulai berspekulasi tentang penentu-penentu peradaban di masa depan. Ada yang mengemukakan kalau Cina sebuah kandidat terutama dengan melihat jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonominya. Ada yang menoleh pada India, terutama karena penguasaan teknologi informasi yang menonjol. Ada juga yang menunjuk pada Afrika Selatan, secara lebih khusus karena fundamen kemajuan yang dibangun Nelson Mandela demikian kokoh. Dan Anda pun boleh menambahkannya dengan pendapat yang lain. 

Dan apapun negaranya, sulit membayangkan bisa menjadi tauladan peradaban tanpa peran pemimpin yang mengagumkan. Oleh karena itulah, maka eksplorasi ide tentang hal ini akan difokuskan pada sifat-sifat kepemimpinan. 
Mendalami tantangan-tantangan yang menghadang, tidak ada kata yang lebih tepat dari kata berat. Jangankan pemimpin yang belum menunjukkan tanda-tanda kinerja yang mengagumkan, Thaksin di Thailand yang sudah menunjukkan sejumlah kinerja saja dikudeta. Jangankan mereka yang umur tahun kepemimpinannya masih bisa dihitung dengan beberapa jari, yang sudah mencengkram beberapa puluh tahun pun harus runtuh. Dari sinilah muncul perlunya sikap teguh dalam memimpin. 

Dan salah satu pemimpin dengan kualitas keteguhan mengagumkan yang pernah lahir bernama Mahatma Gandhi. Tidak terhitung banyak sekaligus besarnya tantangan yang pernah dihadapi
Gandhi. Dari disiksa ketika menjadi pengacara di Afrika Selatan, berhadapan dengan penjajah Inggris yang memegang kuasa sekaligus senjata, sampai dengan digoda kekuasaan setelah India merdeka. Dan apapun godaannya, Gandhi tetap teguh pada dua hal: tanpa kekerasan, tidak mencampurkan urusan pribadi dengan urusan perjuangan.
Soal tanpa kekerasan, Gandhi memang nyaris tiada tandingannya di abad ini. Baik ketika di Afrika Selatan maupun di India, berkali-kali tubuhnya disakiti dan dilukai, ia tetap konsisten dengan prinsip tanpa kekerasan. Bahkan ketika tubuhnya ditembus peluru pun, beberapa detik sebelum mati masih sempat memohon agar yang menembak dirinya diampuni. 
Berkaitan dengan keteguhan tidak mencampurkan perjuangan dengan urusan pribadi, terlihat puncaknya tatkala India baru merdeka. Tidak sedikit tokoh baik dari kubu Hindu maupun Muslim yang sepakat, Gandhilah yang paling pantas duduk sebagai Perdana Menteri India yang pertama. Namun sebagaimana telah dicatat rapi oleh sejarah, ia menjaga kemurnian perjuangan dengan mempersilahkan Nehru memegang kursi perdana menteri. Sehingga dalam totalitas, jadilah Gandhi tokoh yang merenda keindahan kehidupan dengan dua keteguhan: tanpa kekerasan dan kemurnian perjuangan. 

Namun sebagaimana telah banyak dicatatkan oleh waktu, terlalu banyak pemimpin yang menggunakan keteguhan tanpa pedoman. Ibarat pengayuh perahu, keras sekali ia mengayuh (baca: teguh), namun lupa bahwa ia tidak seorang diri di dalam perahu. Sehingga jadilah keteguhan bersahabatkan kesewenang-wenangan. 
Dan di zaman di mana wacana, perjuangan, konflik, tarik menarik kepentingan demikian riuhnya, bukan lagi saatnya merubah orang dengan pentungan, kepalan tangan, ancaman, apa lagi pembunuhan. Seberapa keras pun kepribadian seseorang, seberapa gelap pun pengalamannya, seberapa sentimen pun ia akan kehidupan, tetap manusia rindu akan sentuhan-sentuhan. 
Seperti Cleopatra yang menundukkan Eropa pertama kalinya. Seperti Taj Mahal yang bukan permaisuri raja, bukan beragama Hindu, tetapi dikenang menawan di negara yang mayoritas penduduknya beragama Hindu. Seperti Ibu Theresa yang menyentuh hati dunia. Di sinilah kemudian manusia memerlukan seorang Rumi. 

Bila Gandhi menawan dengan keteguhan, Rumi menawan dengan sentuhan-sentuhan.  Ada wibawa, ada karisma, ada getaran, ada sentuhan di hampir setiap karya-karya Rumi. 
Suatu hari Rumi berdoa dalam-dalam. Sehabis berdoa, ia ketuk pintu Kekasih Yang Maha Mencintai. Dari dalam ada yang bertanya: ’siapa?’. Dengan teduh Rumi menjawab: áku!. Tanpa menunggu lama-lama suara tadi menjawab kembali : ’tidak ada tempat untuk berdua’
Kembali Rumi berdoa dalam-dalam. Setelah dirasa cukup, ia ketuk lagi pintu yang sama. Kali ini pun terdengar suara yang sama: ’siapa?’. Dengan bergetar Rumi menjawab: Éngkau!’. Tanpa aba-aba pintu itu langsung terbuka.  Bagi setiap pejalan kaki ke dalam diri akan mengerti, seberapa jauh Rumi sudah pergi.  

Dalam doa, dalam kerja selalu Pintu itu diketok-ketok  dengan berbagai cara. Namun bagi manusia yang masih sibuk dengan kata aku (baca: penuh ego, kesombongan, kecongkakan, kemarahan, kebencian), Pintu itu tidak terbuka. Kapan saja 'aku'nya menghilang, tanpa diketuk pun Pintu ini otomatis terbuka. 
Dalam bahasa seorang guru: when you step up in the path of God means you step down in the path of ego. Kalau kaki manusia melangkah  naik di tangga-tangga keTuhanan, berarti melangkah turun dalam tangga-tangga keegoan. Dan baik kehidupan Gandhi maupun kehidupan Rumi sama-sama penuh inspirasi karena melangkah turun dalam tangga-tangga keegoan.  

Kembali ke cerita awal tentang tauladan peradaban, di mana saja lahir pemimpin yang seteguh Gandhi dan semenyentuh Rumi, barangkali dari sana cahaya peradaban akan mulai membimbing kegelapan-kegelapan.

~ Gede Prama ~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar