AtlantiA

Sabtu, 07 Desember 2013

Cikal Bakal




Salah satu kata yang mengandung makna rangkap, sekaligus memuat komponen struktual dan temporal ialah kata ‘bakal’. Bebakalan atau bakale mengandung unsur-unsur pembangunan struktur. Misalnya bahan baku atau bahan dasar wesi aji yakni wesi puro-sani,yakni dulu di Yogyakarta dijadikan nama pabrik besi, yang kini lokasinya menjadi situs Melia-Purosani. Bahan baku wesi Ahadiat, justru kata ini adalah kata/bahasa Arab, yang mengandung makna sangat dalam, yakni: bahwa unsur pembangunan arche-thypus jagad raya itu jagad raya itu tentu saja konsekusi dari keMahatauhid-anNya. Maka bahwa seorang empu ketika melalui pakaryan agung membuat keris harus mbibit niat sampai kepada bibit yang paling sepuh, maka tahap yang selanjutnya yakni mbebet, memberi busana, dalam hal ini memberi pamor benda langit yang dikenal sebagai meteor, maka sejak para wali menemukan kenyataan indah seperti itu, lalu menjadikan keris berpamor benda angkasa sebagai tamsil dari manunggalnya budaya dan agama, pamoring kawula-Gusti.



Ketika Sinuhun Paku Buwono IV menerangkan bahwa luluhnya emas dan tembaga manjadi swasa, bagi mereka yang kurang mendalam telaahnya menganggap bahwa emas itu ‘Gusti’ tembaga itu ‘kawula’, sehingga swasa menjadi lambang pamoring ‘kawula-Gusti’ padahal yang sesungguhnya justru: baik emas, tembaga, atau swasa bisa menjadi luluh, manunggal oleh karena ‘api’.

Tadi telah diterangkan bahwa kata ‘bakal’ di samping bermakna struktural, jadi nantinya. Salah satu contoh ialah perihal merebaknya penggunaan narkoba, suatu bahan yang akan merusak jaringan saraf, sehingga masyarakat yang terjerumus ke dalam gaya hidup kecanduan demikian itu dapat dipastikan akan mengalami kehancuran sehingga ungkapan dalam Wulang-Wuruk Jawa, ‘bakal rusak’, justru telah diantisipasi para empu budaya adi luhung, ketika mereka nyerat batik ‘parang rusak’.

Ketika Jeromi Suzuki sebagai Marco-Polo abad XX atas prakarsa masyarakat Eropa bersempatan keliling dunia dan ketika bersimpuh di candi Borobudur lalu mengoreksi hipotesisnya tentang Indonesia, yang semula dianggap sebagai saudara muda ternyata dahulu jauh lebih sepuh. Terbukti dari relief kapal layar bertiang dua, yang waktu itu dunia baru mengenal kapal layar bertiang satu, maka selanjutnya tokoh dunia ini berkesimpulan bahwa tarikan anak-panah zaman ke belakang titik pangkalnya memang di Indonesia, dari situ lalu anak panah tadi meleset jauh ke depan. Tarikan kebelakang itulah budaya tradisional, sementara laju ke depannya adalah budaya modern, global.

Tarikan ke belakang itu akan mengantarkan kita kepada suasana kehidupan udik di hulu eksistensial, ketika semesta penuh wacana tanpa kata, namun diliputi makna sekaligus rasa, seperti penutup karya adiluhung Mangkunegaran IV:
         
Mangka kanthining tumuwuh
Salami mung awas-eling
Eling lukitaning alam
Dadi wiryaning dumadi
Supadi nir ing sangsaya
Yeku pangreksaning urip
Dene awas tegesipun
Weruh warananing urip
Miwah wiwesaning tunggal
Kang atunggil rina wengi
Kang makitun ing sakarsa
Gumelar ngalam sakalir

Alhamdulillah, cikal-bakal pendiri Republik tercinta Indonesia tercinta ini sungguh-sungguh awas seperti yang tertuang pada bait tersebut di atas, yakni warananing urip sekaligus, wasesaning tunggal, yang bukan saja terpateri dalam karsa yang sama, melainkan bahwa gumelar sebagai perekat kesatuan di tengah-tengah perbedaan. Itulah indahnya kata-kata bersayap: Bhinneka (ika-iku-iki) itu tunggal (ika).

Nah, apakah, cikal-bakal tumuwuh, tertinggal atau bakal ora dadi,  seyogyanya merenungkan pedoman. Guru bakal, guru dadi, sesuai dangan inti agama (=harmoni kosmis) mugi rahayua sagung dumadi.

Kita lahir dari ‘Batin’. Setelah kita lahir, tugasnya ialah mbatin Tuhan, jadi bukannya malah dis-intregasi. Lahir itu diferensial. Batin itu Integral. Tidak ada aljabar dis-integral.

..................




(Sumber: Wulang Wuruk Jawa,Pustaka Damar –jati, Prof. Dr. Damardjati Supardjar)






Tidak ada komentar:

Posting Komentar