Salah satu kata
yang mengandung makna rangkap, sekaligus memuat komponen struktual dan temporal ialah kata ‘bakal’. Bebakalan atau bakale mengandung unsur-unsur
pembangunan struktur. Misalnya bahan baku atau bahan dasar wesi aji yakni wesi puro-sani,yakni
dulu di Yogyakarta dijadikan nama pabrik besi, yang kini lokasinya menjadi
situs Melia-Purosani. Bahan baku wesi
Ahadiat, justru kata ini adalah kata/bahasa Arab, yang mengandung makna
sangat dalam, yakni: bahwa unsur pembangunan arche-thypus
jagad raya itu jagad raya itu tentu saja konsekusi dari
keMahatauhid-anNya. Maka bahwa seorang empu ketika melalui pakaryan agung membuat keris harus mbibit niat sampai kepada bibit yang paling sepuh, maka tahap yang selanjutnya yakni mbebet, memberi busana, dalam hal ini memberi pamor benda langit
yang dikenal sebagai meteor, maka sejak para wali menemukan kenyataan indah
seperti itu, lalu menjadikan keris berpamor benda angkasa sebagai tamsil dari
manunggalnya budaya dan agama, pamoring
kawula-Gusti.
Ketika Sinuhun
Paku Buwono IV menerangkan bahwa luluhnya emas dan tembaga manjadi swasa, bagi mereka yang kurang mendalam
telaahnya menganggap bahwa emas itu ‘Gusti’ tembaga itu ‘kawula’, sehingga
swasa menjadi lambang pamoring
‘kawula-Gusti’ padahal yang sesungguhnya justru: baik emas, tembaga, atau swasa bisa menjadi luluh, manunggal
oleh karena ‘api’.
Tadi telah
diterangkan bahwa kata ‘bakal’ di
samping bermakna struktural, jadi nantinya. Salah satu contoh ialah perihal
merebaknya penggunaan narkoba, suatu bahan yang akan merusak jaringan saraf,
sehingga masyarakat yang terjerumus ke dalam gaya hidup kecanduan demikian itu
dapat dipastikan akan mengalami kehancuran sehingga ungkapan dalam Wulang-Wuruk Jawa, ‘bakal rusak’, justru
telah diantisipasi para empu budaya adi
luhung, ketika mereka nyerat batik
‘parang rusak’.
Ketika Jeromi
Suzuki sebagai Marco-Polo abad XX atas prakarsa masyarakat Eropa bersempatan
keliling dunia dan ketika bersimpuh di candi Borobudur lalu mengoreksi
hipotesisnya tentang Indonesia, yang semula dianggap sebagai saudara muda
ternyata dahulu jauh lebih sepuh.
Terbukti dari relief kapal layar bertiang dua, yang waktu itu dunia baru
mengenal kapal layar bertiang satu, maka selanjutnya tokoh dunia ini
berkesimpulan bahwa tarikan anak-panah zaman ke belakang titik pangkalnya
memang di Indonesia, dari situ lalu anak panah tadi meleset jauh ke depan.
Tarikan kebelakang itulah budaya tradisional, sementara laju ke depannya adalah
budaya modern, global.
Tarikan ke
belakang itu akan mengantarkan kita kepada suasana kehidupan udik di hulu
eksistensial, ketika semesta penuh wacana tanpa kata, namun diliputi makna
sekaligus rasa, seperti penutup karya adiluhung
Mangkunegaran IV:
Mangka kanthining tumuwuh
Salami mung awas-eling
Eling lukitaning alam
Dadi wiryaning dumadi
Supadi nir ing sangsaya
Yeku pangreksaning urip
Dene awas tegesipun
Weruh warananing urip
Miwah wiwesaning tunggal
Kang atunggil rina wengi
Kang makitun ing sakarsa
Gumelar ngalam sakalir
Alhamdulillah, cikal-bakal pendiri Republik tercinta
Indonesia tercinta ini sungguh-sungguh awas seperti yang tertuang pada bait
tersebut di atas, yakni warananing urip
sekaligus, wasesaning tunggal, yang
bukan saja terpateri dalam karsa yang sama, melainkan bahwa gumelar sebagai perekat kesatuan di
tengah-tengah perbedaan. Itulah indahnya kata-kata bersayap: Bhinneka (ika-iku-iki) itu tunggal (ika).
Nah, apakah, cikal-bakal tumuwuh, tertinggal atau bakal ora dadi, seyogyanya merenungkan pedoman. Guru bakal, guru dadi, sesuai dangan inti
agama (=harmoni kosmis) mugi rahayua
sagung dumadi.
Kita lahir dari
‘Batin’. Setelah kita lahir, tugasnya ialah mbatin
Tuhan, jadi bukannya malah dis-intregasi. Lahir itu diferensial. Batin itu
Integral. Tidak ada aljabar dis-integral.
..................
Tidak ada komentar:
Posting Komentar