AtlantiA

Rabu, 11 Desember 2013

Seni dari 'hidup yang Sadar'

  Alam adalah ibu kita. Karena kita hidup terputus darinya, kita menjadi sakit. Beberapa di antara kita hidup di dalam kotak-kotak yang disebut dengan apartemen, sangat tinggi di atas tanah. Sekeliling kita hanyalah semen, logam, dan benda-benda keras lain seperti itu. Jari-jari kita tidak berkesempatan untuk menyentuh tanah, kita tidak menanam selada lagi. Karena kita begitu jauh dari ibu pertiwi kita, kita menjadi sakit. 

Itulah sebabnya kita perlu keluar dari waktu ke waktu dan berada di alam. Ini sangatlah penting, kita dan anak-anak kita harus berhubungan kembali dengan Ibu Pertiwi. Di banyak kota kita tidak bisa melihat pepohonan – warna hijau sama sekali hilang dari pemandangan kita.

Pada suatu hari, saya bayangkan satu kota dimana hanya tersisa satu pohon. Pohon itu tetap indah, tetapi hanya sendiri dikelilingi gedung-gedung, di pusat kota itu. Banyak orang menjadi sakit, dan para dokter umumnya tidak tahu bagaimana menangani penyakit itu. Tetapi seorang dokter yang sangat arif mengetahui sebab-sebab penyakit itu dan memberi resep ini pada tiap-tiap pasien: “Setiap hari, naiklah bis dan pergi ke pusat kota untuk memandang pohon. Ketika anda menuju ke sana, praktikkan menarik dan mengeluarkan napas, dan ketika tiba di sana, peluklah pohon itu, tarik napas sebanyak lima belas kali, ketika anda memandangi pohon itu, begitu hijau, dan mencium kulit kayunya, begitu semerbak. Jika anda lakukan itu, dalam beberapa minggu anda merasa jauh lebih baik."
Orang-orang mulai merasa lebih baik, tetapi segera saja begitu banyak orang berdesakan ke pohon, sehingga mereka berdiri berbaris sepanjang bermil-mil. Anda tahu bahwa orang di zaman kita tidak mempunyai cukup banyak kesabaran, jadi berdiri tiga atau empat jam untuk menunggu memeluk pohon itu adalah terlalu lama, dan mereka memberontak. Mereka berdemonstrasi untuk membuat aturan bahwa setiap orang hanya boleh memeluk pohon  itu selama lima menit. Tetapi tentu saja hal itu mengurangi waktu bagi penyembuhan. Dan segera, waktunya dikurangi menjadi satu menit sehingga kesempatan untuk disembuhkan oleh Ibu kita menjadi hilang.

Kita bisa segera berada dalam situasi seperti itu jika kita tidak waspada. Kita harus mempraktikkan kesadaran terhadap setiap hal yang kita kerjakan jika kita ingin menyelamatkan Ibu Pertiwi kita dan diri kita serta anak-anak kita. Misalnya, ketika kita mengamati sampah, kita bisa melihat selada, timun, tomat, dan
bunga di sana. Ketika kita membuang kulit pisang ke dalam sampah, kita sadar bahwa itu adalah kulit pisang yang sedang kita buang, dan bahwa ia akan segera berubah menjadi bunga atau sayuran. Itulah sebenarnya praktik dari meditasi.

Ketika kita membuang kantong plastik ke dalam sampah, kita tahu bahwa ia berbeda dengan kulit pisang. Ia akan membutuhkan waktu yang lama untuk menjadi bunga."Membuang plastik ke dalam sampah, saya tahu bahwa saya membuang kantong plastik ke dalam sampah." Kesadaran semacam itu saja sudah sangat
membantu kita melindungi Bumi, membuat kedamaian dan merawat kehidupan pada saat ini dan masa yang akan datang. Jika kita sadar, dengan sendirinya kita akan berusaha menggunakan lebih sedikit kantong plastik. Ini adalah suatu tindakan damai, jenis utama dari perbuatan damai.
Ketika kita membuang popok plastik ke dalam tong sampah, kita tahu bahwa ia bahkan memerlukan waktu lebih lama untuk menjadi bunga, empat ratus tahun atau lebih lama lagi. Mengetahui bahwa menggunakan popok semacam ini tidaklah mengarah pada kedamaian, kita mencari cara lain untuk merawat bayi kita.
Mempraktikkan pernapasan dan merenungkan tubuh, perasaan, pikiran dan objek-objek pikiran kita, kita mempraktikkan kedamaian pada saat ini. Inilah hidup dengan sadar dan waspada. 

Sampah nuklir adalah sampah yang terburuk. Ia memerlukan 250.000 tahun untuk menjadi bunga. Empat puluh dari lima puluh negara bagian Amerika sudah dicemari oleh sampah nuklir. Kita membuat Bumi ini tempat yang tak memungkinkan untuk didiami bagi diri kita dan anak-anak kita untuk banyak generasi. 
Jika kita menjalani hidup saat ini dengan sadar, kita akan mengetahui apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan, serta kita akan berusaha melakukan hal-hal yang menuju pada kedamaian.

(Damai Setiap Langkah ~ Ven. Zen Master Thich Nhat Hanh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar