~ * ~
Ketika saya berpikir tentang ibu saya, saya tak dapat memisahkan bayangannya dari gagasan saya tentang cinta kasih, karena cinta kasih merupakan bahan alami dari nada suaranya yang merdu dan lembut.
Pada hari saya kehilangan ibu, saya tulis di dalam catatan harian saya, “Tragedi terbesar dalam hidupku baru saja terjadi”. Meskipun sebagai orang dewasa yang hidup terpisah dari ibu, kepergiannya meninggalkan perasaan ditinggalkan sebagai anak piatu yang kecil.
Saya tahu bahwa banyak teman di Barat yang tidak merasakan hal yang sama terhadap orangtua mereka. Saya telah mendengar bahwa cerita tentang orangtua yang begitu menyakiti anak-anak mereka, menanamkan banyak benih penderitaan di dalam diri mereka. Tetapi saya percaya bahwa orangtua tidak bermaksud menanam benih-benih itu. Mereka tidak bermaksud membuat anak mereka menderita. Mungkin mereka menerima benih yang sama dari orangtuanya. Terjadi kesinambungan dalam penyebaran benih, dan orangtua mereka mungkin sudah mendapat benih itu dari kakek nenek mereka.
Kita kebanyakan menjadi korban dari sejenis kehidupan yang tidak berkesadaran; dan cara hidup yang berkesadaran, dengan bermeditasi, dapat menghentikan penderitaan semacam ini dan mengakhiri penyebaran penderitaan semacam itu pada anak cucu kita. Kita bisa memutuskan lingkaran ini dengan tidak mengizinkan benih-benih penderitaan semacam ini disebarkan pada anak kita, teman kita atau siapapun.
Seorang remaja berusia empat belas tahun yang berlatih di desa Prem mengatakan cerita ini kepada saya. Ketika ia berusia sebelas tahun, ia sangat marah pada ayahnya. Setiap kali ia jatuh dan terluka, ayahnya akan memakinya. Si anak bertekad ketika ia dewasa nanti, ia akan berbeda. Tetapi tahun lalu, adiknya sedang bermain dengan anak lain dan ia jatuh dari ayunan serta lututnya terluka. Lutut itu berdarah, dan si anak lelaki ini menjadi sangat marah. Ia ingin memakinya, “Betapa bodohnya! Mengapa kau lakukan itu?” tetapi ia menahan diri. Karena ia sudah berlatih bernapas secara sadar dan melatih kesadarannya, ia bisa mengenali kemarahannya dan ia tidak bertindak begitu. Si kakak merawat adiknya, mencuci lukanya dan menempelkan plester, lalu perlahan-lahan ia pergi dan melatih pernapasan pada kemarahannya. Tiba-tiba ia menyadari bahwa ia persis seperti ayahnya. Ia berkata kepada saya, “Saya menyadari jika saya tidak melakukan sesuatu terhadap kemarahan di dalam diri, saya akan menyebarkannya pada anak-anak saya."
Pada saat yang sama, ia melihat sesuatu yang lain. Ia melihat bahwa ayahnya mungkin telah menjadi korban seperti dirinya. Benih-benih kemarahan ayahnya mungkin telah disebarkan oleh kakek dan neneknya. Ini merupakan pengertian yang sangat hebat bagi seorang anak lelaki berusia empat belas tahun, tetapi karena ia telah mempraktikkan kesadaran, ia bisa melihat seperti itu. “Saya berkata kepada diri saya sendiri untuk terus berlatih demi mengubah kemarahan saya pada sesuatu yang lain.” Dan setelah beberapa bulan, kemarahan saya lenyap. Selanjutnya ia bisa membawa buah latihan ini pada si ayah, dan ia berkata padanya bahwa beliau dahulu bisa marah kepadanya, tetapi sekarang ia mengerti. Ia berkata, berharap ayahnya mau berlatih juga, untuk mengubah benih-benih kemarahannya sendiri.
Kita biasanya berpikir bahwa orangtualah yang harus merawat dan mengajari anak-anak mereka, tetapi kadangkala anak-anak bisa memberikan penerangan pada orangtua serta membantu untuk mengubah mereka. Bila kita melihat orangtua kita dengan kasih sayang, kerapkali kita melihat bahwa orangtua kita hanyalah korban yang tidak pernah berkesempatan mempraktikkan/melatih kesadarannya. Mereka tidak dapat mengubah penderitaan yang ada di dalam diri mereka. Tetapi jika kita melihat mereka dengan mata penuh kasih, kita bisa memberi mereka kegembiraan, kedamaian dan pemaafan.
Kenyataannya, jika kita mengamati secara mendalam, kita mendapati bahwa tidaklah mungkin melenyapkan semua identitas orangtua pada diri kita. Ketika kita mandi, bila kita melihat secara teliti pada tubuh kita, kita akan melihat bahwa ia merupakan hadiah dari orangtua kita. Ketika kita mencuci setiap bagian dari tubuh kita, kita bisa bermeditasi pada sifat tubuh dan sifat kehidupan, menanyai diri sendiri,
“Milik siapakah tubuh ini? Siapakah yang telah memberi tubuh ini padaku? Apa yang telah diberikan?”
Jika kita bermeditasi seperti ini, kita akan menemukan bahwa ada tiga unsur di sana yaitu: pemberi, pemberian dan orang yang menerima pemberian. Si pemberi adalah ayah-bunda kita, kita merupakan kesinambungan dari orangtua kita dan leluhur kita. Pemberian itu adalah jasmani kita. Orang yang menerima pemberian itu adalah kita.
Sambil kita meneruskan bermeditasi pada hal ini, kita melihat dengan jelas bahwa si pemberi, pemberian, dan si penerima adalah satu. Ketiganya ada di dalam tubuh kita. Ketika kita berhubungan secara mendalam dengan saat ini, kita bisa melihat bahwa semua leluhur kita dan semua generasi mendatang ada di dalam diri kita.
Melihat ini, kita akan tahu apa yang harus dikerjakan dan apa yang tidak boleh dikerjakan untuk diri kita sendiri, leluhur kita, anak-anak kita dan anak-anak mereka....
~ * ~
(Damai Setiap Langkah ~ Ven. Zen Master Thich Nhat Hanh



Tidak ada komentar:
Posting Komentar