AtlantiA

Sabtu, 07 Desember 2013

'PAKAIAN RESMI, CUKONG KARIR, PERKUTUT'... ( Sampai dimana sebetulnya ketuhanan kita ? )





            Sampai dimana sebetulnya ketuhanan kita ? Tuhan siapa bagiku ?

Pertanyaan yang menentukan segala-galanya itu dilayarkan oleh nelayan sederhana sahabat samudera.

Hanyalah.......sampai dimana kita setia, taat dan cinta pada Tuhan yang Tuhan benar? Dan bukan Tuhan buatan kita sendiri, hasil perhitungan dagang atau taktik politik belaka? Artinya : Tuhan sebagai Tuhan yang Pangeran serta Pengasih tiada tara terbanding ataukah semacam simbol dan mekanisme yang kita otak-atik sendiri selaku alat ataupun budak keinginan kita? Itulah pertanyaan yang sama yang yang dinyanyikan oleh mahasiswa-mahasiswi Gadjah Mada dalam suatu musical operette belum lama ini :
          
            Apakah arti Dewa atau Allah,
            Tuan-Nyonya budiwan-budiwati,
            Jikalau itu tinggal istilah,
            Atau pakaian resmi ?
            Kemana pergi agama ? Ketuhanan
            Kar’na takut atau Cuma asal seneng,
            Teori steril these pikiran,
            Lagi mode iseng ?
                        Tuhan imaji psikologi, wayang tafsiran ki dalang ?
                        Tuhan hasil tes semester dan sanksi undang-undang ?
                        Istilah hanya istilah,
                        Terbudak selera dan lidah....

Nyanyian sekecut itu memanglah tidak membelai lidah kepuasan diri kita. Tetapi kecenderungan kita sangat sering mengarah kesitu ? Keagungan agama jadi terbiasakan kita ukur dengan puluhan juta rupiah beton-baja, sekian watt neon atau sekian meter tape casette di gedung gereja atau mesjid. Kebaktian kepada Tuhan juga lantas dikonduitkan pada nyala sutera-chiffon-batik serta pameran ukuran vital dalam upacara ibadat. Kecintaan pada Allah sering digantungkan langsung pada kenikmatan aranjemen organ dan kemerduan koor, pada kegesitan organisasi panitya natal atau roti taart bermentega cokelat lebaran. Maka kita lantas haibat berkompetisi mementaskan lagu-musik mazmur-mazmur dan estetika sastra-ayat-ayat keramat; salah paham, bahwa firman Allah disabdakan olehNya, tidak untuk diperlombakan, dipamerkan, diproyekkan, tetapi dikerjakan konsekwen tanpa tipu diri, direnungkan dalam jiwa hening sederhana.

Berjuta dolar terbang ke maskapai-maskapai bisnis rukun/ziarah ke Roma, ke Lourdes, ke tempat-tempat lain (mis: makkah-madinah), dalam kabin full-AC, sambil orang menghitung keuntungan barang dagangan bergoni-goni yang ikut dibawa dan yang pasti membawa untung berkat subsidi Departemen yang bersangkutan. Beragamalah demi ketahanan nasional ! Beribadatlah demi pariwisata !. Tuhan dijadikan semacam pelor bedil, dijadikan cukong atau agen sales-promotion.

Bukan berarti bahwa kas panitya Natal dan gaun Idulfitri tidak penting atau melawan ketuhanan sejati. Bukan maksudnya nyanyian mazmur atau pembacaan ayat-ayat suci boleh sesuka sinyo semau noni saja. Kita roh-badan dan kebaktian kita selalu melodi paduan dua itu. Bukan itu soalnya. Tetapi mana cinta murni, mana cuma nafsu menguasai?

Sering kabur batas antara kebaktian pada Tuhan yang 'Tuhan' (huruf besar) dan pengobyekan 'tuhan' (huruf kecil) buatan kita sendiri, tuhan yang bernama ‘aku’ dan ‘golongan’ku’. 'Tuhan' yang kita sembah, kita muliakan, kita taati kita cintai ataukah 'tuhan' yang kita peralat, kita kulak kita jual kita lacurkan ?

Sebenarnyalah kita belum bangsa relijius. Kita baru belajar langkah-langkah pertama ke arah itu......atau sedang menjauh dari DIA dengan latah menipu diri. Pandanglah saja fakta di sekeliling dan di dalam Anda. Sanggupkah kita dengan segala kerendahan hati ikut bernyanyi dengan mahasiswa-mahasiswi dalam langendriyan tadi :
             
            Tuhan tak mungkin terjaring
            dinobatkan jadi perkutut
            dikatrol dipucuk bambu kering
            disuruh meng-iya manggut-manggut
            Tuhan bukanlah oom-senang yang kita cium-cium mesra :
            ah oomku kaya ah abang sayang !
            sambil kita mencopet dompetnya

Teks nyanyian itu masih bisa ditambah terus :
         
     Tuhan bukan dukun obat segala penyakit, makelar kenaikan pangkat, penyulap harta karun, akik sihir pembunuhan lawan, intel politik, makcomblang kekasih, tumbal ketololan, cukong komisi obyek, agen karcis surga, panglima tentara bayaran, penambal ban Honda asmara, kaset pita kemalasan berdoa, babu anak-anak terlantar tante girang, penjual mantra-mantra keinginan nafsu, direktur salon kecantikan feminae, thesis kunci teori social engineering, detektif 007 atau Garth untuk segala kesulitan yang kita persulit sendiri, dan seterusnya dan sebagainya.
Tuhan adalah Yang Sama sekali Lain dari yang kita perkirakan atau buat-buat.

............................
..........................
            “Seperti hal sinar-sinar alfa beta gama sampai omega
            Semakin kita merasa mengerti Tuhan semakin kita terkena ketawa”
Begitulah musical di Gadjah mada tadi berakhirulkalam..
Nabi Ibrahim dengan isterinya cantik Sarah dulu, berapa puluh abad yang lalu, pernah pula mengarungi lautan, lautan pasir. Dengan iman semakin murni semakin murni.
            Siapa Tuhan ? Tuhan sebagai Tuhan, kita tak akan mafhum.
            Namun aneh, rahmat Tuhan menakjubkan mengharum..
            Dalam sinar mata kanak-kanak maupun tangis nenek yang sepi merana.
            Dalam senyum bahagia perawan ataupun muak pelacur hancur.
            Tuhan mengangkat membapa, mencium menghibur,
            Maka aku hanya ingin tersenyum...menyanyi syukur...


***********
.
From: Puntung-Puntung Rara Mendut, YB Mangunwijaya (Harian Kompas, 3 Oktober 1975)
~mengenang romo Mangun~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar